Jakarta, Padek—Kementerian
Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus mengebut persiapan uji
komptensi guru (UKG). Kabar terbaru menyebutkan jika tahap pertama UKG
adalah untuk guru SMP bersertifikat dulu.
Ditemui usai mengikuti silaturahmi
dengan guru-guru honorer kawasan 3T (terdepan, terluar, dan
tertinggal) di Jakarta kemarin (9/7), Kepala Badan Pengembangan Sumber
Daya Manusia Pendidikan dan Penjamin Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP)
Syawal Gultom mengatakan, persiapan UKG sudah hampir matang. “Termasuk
penyediaan soal ujian,” katanya.
Gultom mengatakan ujian berjalan secara
bertahap untuk guru semua jenjang pendidikan. Mulai dari TK hingga SMA
dan SMK. Dia berharap, tahapan ujian yang akan dimulai pada 30 Juli ini
bisa rampung pertengahan September mendatang.
Untuk tahap awal, Gultom menuturkan
jika UKG ini dijalankan dulu bagi guru yang sudah bersertifikat.
“Lebih spesifiknya untuk guru bersertifikat yang mengajar jenjang SMP
dulu,” kata dia. Selanjutnya, pada bulan berikutnya baru untuk guru
yang mengajar jenjang SMA atau SD. Keputusan akan ditetapkan lebih
lanjut.
Mantan rektor Universitas Negeri Medan
(Unimed) itu mengatakan, UKG ini dijadikan sebagai alat untuk mengukur
sekaligus memetakan kondisi semua guru yang ada di Indonesia. Dengan
demikian, dia menegaskan UKG ini diberlakukan untuk guru yang
bersertifikat maupun yang belum bersertifikat. Namun karena alasan
ketersediaan anggaran, guru bersertifikat mendapat prioritas ujian
lebih dulu.
Selain itu, Gultom juga mengatakan
bahwa ujian ini tidak berujung pada lulus atau tidak lulus. “Tapi
kita tetap menentukan passing grade,” katanya. Untuk guru yang berada di bawah passing grade akan dilakukan pembinaan lebih lanjut. Sebaliknya, untuk guru yang nilai UKG-nya di atas passing grade belum perlu mengikuti pembinaan.
Gultom menegaskan, UKG ini sangat
bermanfaat bagi guru sendiri. Dengan kondisi ini, dia mengatakan, guru
tidak perlu menolak rencana UKG ini. Apalagi, beberapa dinas
pendidikan kabupaten atau kota sudah melakukan verifikasi calon
peserta UKG. “TIdak perlu ada boikot. Jika tidak ikut UKG, guru tidak
tahu perkembangan kemampuan atau kompetensinya,” ujarnya.
Layaknya orang yang akan menjalani general chek-up,
Gultom mengatakan, UKG bisa mendiagnosis “penyakit-penyakit” yang
diderita guru. Sehingga bisa segera diobati. Menurut Gultom, di
Indonesia ini ada tiga kriteria guru. Kriteria pertama adalah guru
sejahtera dan profesional. Kedua, guru tidak sejahtera tetapi
profesional. “Guru seperti ini adalah yang masuk surga duluan. Di
tengah kondisi kesejahteraannya yang belum bagus, guru ini tetap
menjaga profesionalitasnya dalam mengajar,” jelasnya.
Kriteria yang terakhir adalah guru
sejahtera tetapi tidak profesional. “Mudah-mudahan di Indonesia tidak
semakin banyak guru dengan kriteria ini. Tudingan mulai banyak guru
sejahtera, di antaranya karena mendapatkan tunjangan profesi pendidik
(TPP), tetapi tidak profesional bisa dipupus dengan adanya UKG,”
ulasnya. (wan/jpnn)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar