Rabu, 25 Juli 2012

UKG Pertama untuk Guru SMP Dulu

Jakarta, Padek—Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terus me­nge­but persiapan uji komptensi guru (UKG). Ka­bar terbaru menyebutkan jika tahap per­tama UKG adalah untuk guru SMP ber­ser­tifikat dulu.


Ditemui usai mengikuti silaturahmi de­ngan guru-guru honorer kawasan 3T (ter­de­pan, terluar, dan tertinggal) di Jakarta ke­marin (9/7), Kepala Badan Pengembangan Sum­ber Daya Manusia Pendidikan dan Pen­jamin Mutu Pendidikan (BPSDMP-PMP) Sya­wal Gultom mengatakan, persiapan UKG sudah hampir matang. “Termasuk penyediaan soal ujian,” katanya.

Gultom mengatakan ujian berjalan secara bertahap untuk guru semua jenjang pendidikan. Mu­lai dari TK hingga SMA dan SMK. Dia berharap, tahapan ujian yang akan dimulai pada 30 Juli ini bisa rampung perte­nga­han September mendatang.

Untuk tahap awal, Gultom me­nuturkan jika UKG ini dija­lan­­kan dulu bagi guru yang su­dah bersertifikat. “Lebih spe­si­fik­nya untuk guru bersertifikat yang mengajar jenjang SMP dulu,” kata dia. Selanjutnya, pa­da bulan berikutnya baru un­tuk gu­ru yang mengajar jen­jang SMA atau SD. Keputusan akan di­tetapkan lebih lanjut.

Mantan rektor Universitas Ne­geri Medan (Unimed) itu me­ngatakan, UKG ini dijadikan se­bagai alat untuk mengukur se­kaligus memetakan kondisi se­mua guru yang ada di Indonesia. Dengan demikian, dia mene­gas­kan UKG ini diberlakukan un­tuk guru yang bersertifikat mau­­pun yang belum ber­serti­fikat. Namun karena alasan ke­ter­sediaan anggaran, guru ber­ser­tifikat mendapat prioritas ujian lebih dulu.

Selain itu, Gultom juga me­nga­­takan bahwa ujian ini ti­dak berujung pada lulus atau ti­dak lu­lus. “Tapi kita tetap me­nen­tu­kan passing grade,” ka­tanya. Un­tuk guru yang bera­da di ba­wah passing grade akan dila­ku­kan pem­binaan lebih lanjut. Se­balik­nya, untuk guru yang nilai UKG-nya di atas passing grade belum perlu mengikuti pem­binaan.

Gultom menegaskan, UKG ini sangat bermanfaat bagi guru sen­diri. Dengan kondisi ini, dia me­ngatakan, guru tidak perlu me­nolak rencana UKG ini. Apa­lagi, be­berapa dinas pendidikan kabu­paten atau kota sudah me­lakukan verifikasi calon pe­serta UKG. “TIdak perlu ada boikot. Jika tidak ikut UKG, guru tidak ta­hu per­kembangan kemam­puan atau kom­petensinya,” ujarnya.

Layaknya orang yang akan men­jalani general chek-up, Gul­tom mengatakan, UKG bisa men­diagnosis “penyakit-penya­kit” yang diderita guru. Sehingga bisa segera diobati. Menurut Gul­­tom, di Indonesia ini ada tiga kr­i­­teria guru. Kriteria pertama ada­lah guru sejahtera dan profe­sio­nal. Kedua, guru tidak sejah­tera tetapi profesional. “Guru se­perti ini adalah yang masuk sur­ga duluan. Di tengah kondisi ke­sejahteraan­nya yang belum ba­gus, guru ini tetap menjaga pro­fesionalitasnya dalam me­nga­jar,” jelasnya.

Kriteria yang terakhir adalah guru sejahtera tetapi tidak profe­sional. “Mudah-mudahan di In­do­nesia tidak semakin banyak guru dengan kriteria ini. Tudi­ngan mulai banyak guru sejah­tera, di antaranya karena men­dapatkan tunjangan profesi pendidik (TPP), tetapi tidak profesional bisa dipupus dengan adanya UKG,” ulasnya. (wan/jpnn)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar